Berikut adalah yang perlu diketahui untuk perdagangan Rupiah pada Rabu, 1 Juli:

Indeks Dolar AS TVC:DXY menguat tipis 0,06% ke 101,17 pada perdagangan Selasa, meski telah mundur dari tertinggi harian 101,43. Dolar masih ditopang oleh meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini, menyusul proyeksi kebijakan yang lebih hawkish dan data ekonomi AS yang tetap kuat. Posisi TVC:DXY yang bertahan di atas 100,60 membuat tekanan terhadap Rupiah belum mereda.

Menjelang pembukaan pasar spot domestik Rabu, pasangan mata uang FX_IDC:USDIDR bergerak di sekitar 17.939,8, naik 69,1 poin atau 0,39%, dan kembali mendekati level psikologis 18.000.

Pasar akan memantau agenda ekonomi Indonesia. Rangkaian data diawali dengan PMI Manufaktur S&P Global Juni setelah berada tepat di level 50,0 pada Mei. Neraca perdagangan Mei diprakirakan mencatat surplus US$1,2 miliar, meningkat dari US$90 juta pada bulan sebelumnya. Ekspor dan impor Mei, masing-masing diprakirakan tumbuh 6,4% dan 19,5% secara tahunan, melambat dari 21,98% dan 22,49% sebelumnya.

Inflasi tahunan Juni diprakirakan naik menjadi 3,2% dari 3,08%, sementara inflasi inti diproyeksikan relatif stabil di 2,6% dibandingkan 2,59%. Secara bulanan, inflasi diprakirakan meningkat menjadi 0,30% dari 0,28%.

Pasar juga menunggu data kunjungan wisatawan asing setelah tumbuh 7,22% pada April. Rangkaian data tersebut akan menguji kemampuan Rupiah menahan tekanan saat FX_IDC:USDIDR kembali mendekati 18.000.

Pertanyaan Umum Seputar Inflasi

Apa itu Inflasi?

Inflasi mengukur kenaikan harga sekeranjang barang dan jasa yang representatif. Inflasi utama biasanya dinyatakan sebagai perubahan persentase berdasarkan basis bulan ke bulan (MoM) dan tahun ke tahun (YoY). Inflasi inti tidak termasuk elemen yang lebih fluktuatif seperti makanan dan bahan bakar yang dapat berfluktuasi karena faktor geopolitik dan musiman. Inflasi inti adalah angka yang menjadi fokus para ekonom dan merupakan tingkat yang ditargetkan oleh bank sentral, yang diberi mandat untuk menjaga inflasi pada tingkat yang dapat dikelola, biasanya sekitar 2%.

Apa itu Indeks Harga Konsumen (IHK)?

Indeks Harga Konsumen (IHK) mengukur perubahan harga sekeranjang barang dan jasa selama periode waktu tertentu. Biasanya dinyatakan sebagai perubahan persentase berdasarkan basis bulan ke bulan (MoM) dan tahun ke tahun (YoY). IHK Inti adalah angka yang ditargetkan oleh bank sentral karena tidak termasuk bahan makanan dan bahan bakar yang mudah menguap. Ketika IHK Inti naik di atas 2%, biasanya akan menghasilkan suku bunga yang lebih tinggi dan sebaliknya ketika turun di bawah 2%. Karena suku bunga yang lebih tinggi positif untuk suatu mata uang, inflasi yang lebih tinggi biasanya menghasilkan mata uang yang lebih kuat. Hal yang sebaliknya berlaku ketika inflasi turun.

Apa Dampak Inflasi terhadap Valuta Asing?

Meskipun mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, inflasi yang tinggi di suatu negara mendorong nilai mata uangnya naik dan sebaliknya untuk inflasi yang lebih rendah. Hal ini karena bank sentral biasanya akan menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi yang lebih tinggi, yang menarik lebih banyak arus masuk modal global dari para investor yang mencari tempat yang menguntungkan untuk menyimpan uang mereka.

Bagaimana Inflasi Memengaruhi Harga Emas?

Dahulu, Emas merupakan aset yang diincar para investor saat inflasi tinggi karena emas dapat mempertahankan nilainya, dan meskipun investor masih akan membeli Emas sebagai aset safe haven saat terjadi gejolak pasar yang ekstrem, hal ini tidak terjadi pada sebagian besar waktu. Hal ini karena saat inflasi tinggi, bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk mengatasinya. Suku bunga yang lebih tinggi berdampak negatif bagi Emas karena meningkatkan biaya peluang untuk menyimpan Emas dibandingkan dengan aset berbunga atau menyimpan uang dalam rekening deposito tunai. Di sisi lain, inflasi yang lebih rendah cenderung berdampak positif bagi Emas karena menurunkan suku bunga, menjadikan logam mulia ini sebagai alternatif investasi yang lebih layak.