Kurs spot Rupiah Indonesia (IDR) diperdagangkan lebih kuat pada Senin di 17.846 per Dolar AS. Pasangan mata uang FX_IDC:USDIDR turun 76 poin atau 0,42% dari penutupan Jumat setelah bergerak dalam rentang sejauh ini di 17.814-17.910. Rupiah mendapat dorongan ketika mata uang AS menjauh dari level tertinggi tahunannya yang disentuh Rabu pekan lalu.
JISDOR Bank Indonesia pada 26 Juni ditetapkan di Rp17.962 per Dolar AS. Sementara itu, kurs transaksi BI pada Senin menempatkan kurs jual di Rp18.051,81 dan kurs beli di Rp17.872,19.
Dolar dan Minyak Turun
Greenback mulai kehilangan momentum setelah Indeks Dolar AS TVC:DXY menutup pekan lalu di 101,37. TVC:DXY kini bergerak di sekitar 101,30 setelah data inflasi PCE AS yang dirilis Kamis tidak lebih panas daripada prakiraan pasar.
Harga minyak yang kembali ke kisaran sebelum perang turut mengurangi tekanan terhadap Rupiah. WTI bergerak di US$69,57 per barel pada Senin, sedangkan Brent berada di kisaran US$72, melanjutkan penurunan seiring meningkatnya kembali arus pengiriman melalui Selat Hormuz.
Meski minyak turun, HSBC menilai dampak guncangan energi sebelumnya mulai terlihat pada melemahnya belanja ritel, sentimen konsumen, dan pesanan ekspor Indonesia. Bank tersebut memprakirakan pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 4,7% pada 2026 dari 5,1% tahun lalu, sementara inflasi rata-rata meningkat menjadi 3,5% dari 1,9%.
HSBC Soroti Neraca Pembayaran
HSBC melihat sumber tekanan Rupiah yang lebih mendasar pada neraca pembayaran, yang diprakirakan kembali negatif untuk tahun kedua pada 2026 seiring lemahnya arus modal dan investasi. “Prospek investasi dan pertumbuhan yang lemah dapat merugikan arus modal,” kata HSBC.
Rangkaian data Indonesia pada Rabu, 1 Juli, akan memberi gambaran baru mengenai tekanan tersebut. PMI Manufaktur Juni menjadi perhatian setelah indeks Mei tepat berada di 50,0. Neraca perdagangan Mei juga akan dicermati sebagai salah satu petunjuk kondisi transaksi berjalan, setelah surplus sebelumnya menyusut menjadi sekitar US$90 juta, sementara impor tumbuh 22,49%, lebih cepat daripada ekspor sebesar 21,98%. Pada saat yang sama, Indonesia akan merilis inflasi Juni. Inflasi tahunan pada bulan sebelumnya tercatat 3,08%, inflasi inti 2,59%, dan inflasi bulanan 0,28%.
Di AS, 78 dari 102 ekonom dalam jajak pendapat Reuters memprakirakan The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% hingga akhir tahun. Namun, ekspektasi pasar lebih hawkish daripada hasil jajak pendapat tersebut. CME FedWatch menunjukkan peluang 61,7% bahwa suku bunga berada di atas kisaran saat ini setelah pertemuan September.
Pasar akan mencari petunjuk baru dari JOLTS, ADP, Nonfarm Payrolls, pertumbuhan upah, dan tingkat pengangguran AS. Data tenaga kerja yang tetap kuat akan mempertahankan peluang kenaikan suku bunga dan menyulitkan Rupiah melanjutkan penguatannya.
Indikator Ekonomi
Neraca Perdagangan
Neraca Perdagangan yang dirilis oleh Statistik Indonesia adalah keseimbangan antara ekspor dan impor barang dan jasa secara keseluruhan. Nilai yang positif menunjukkan surplus perdagangan, sedangkan nilai negatif menunjukkan defisit perdagangan. Jika permintaan dalam pertukaran untuk ekspor Indonesia yang stabil terlihat, Rupiah akan menerima efek positif (atau bullish), sebaliknya akan memiliki efek negatif (atau bearish).
Baca lebih lanjutRilis berikutnyaRab Jul 01, 2026 04.00
Frekuensi:Bulanan
Konsensus:-
Sebelumnya:$0.09M
Sumber: